ilustrasi. sumber: narran.id |
Di tengah tensi Pilkada Jambi yang mulai memanas, penuh intrik dan tak
jarang disertai hoax serta percakapan serba pragmatis-oportunistik, tanpa banyak
disorot lampu kamera, apatahlagi terpancang di baliho-baliho jumbo di berbagai
titik, pelbagai kegiatan sastra-budaya sepanjang Oktober seolah membasuhinya. Pelbagai
lembaga dan komunitas seni yang selama ini luput dari pantauan pejabat daerah, politisi dan
tim pemenangan Pilgub, Pilbup dan Pilwako, menggelar festival sastra-budaya
secara hampir serentak di berbagai tempat di wilayah Provinsi Jambi.
Sebut saja seperti Malay Writers and Cultural Festival (MWCF), Kenduri
Swarnabhumi, Parade Bulan Bahasa dan Sastra Balai Bahasa Provinsi Jambi, Festival Candi Muaro Jambi, Festival Tabun Tawar 8 Lawang Sejerangan Muaro Jambi, Batanghari Literary
and Culture Fetival, Festival Literasi Geragai, Kemah Literasi, TAKAK (Temu
Asah Kreativitas Berakar Kebudayaan), Bedah Ekosistem Seni Pertunjukan yang
ditaja Makaradwipa dan kegiatan per triwulan Taman Budaya Jambi (TBJ). Belum
lagi hajatan sastra yang berlangsung di kampus-kampus.
Rangkaian aktivitas literasi yang berlangsung di berbagai titik itu,
selain bertujuan mengasah kreativitas dan critical thingking bagi
anak-anak muda melalui medium sastra-budaya, juga bertolak dari sebuah
kesadaran tentang literasi sebagai jalan kebudayaan untuk membangun peradaban. Sebuah
pilihan gerakan kebudayaan yang melampaui kepentingan politik jangka pendek,
sekat-sekat primordial dan membangun kohesi sosial berbasis nilai-nilai yang
terkandung di dalam karya sastra dan produk budaya lainnya. Kerja demikian masih
kurang populer lantaran mensyaratkan nafas panjang sekaligus keuletan menyelami
lapisan-lapisan realitas kebudayaan, sehingga membedakannya dengan politik praktis yang menggantungkan pada pelbagai kepentingan yang berubah-ubah dalam tempo cepat. Begitulah riil politik, “tidak ada teman
abadi, kecuali kepentingan”.
Baru-baru ini juga muncul gerakan koalisi peta jalan kebudayaan yang
diiniasi oleh pelbagai komunitas seni-budaya di Provinsi Jambi dengan tujuan
agar para Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jambi berkomitmen terhadap pemajuan
kebudayaan di Provinsi Jambi. Bahkan, mereka sudah menyampaikan rumusan pokok-pokok
pikiran kebudayaan kepada KPU Provinsi Jambi agar isu kebudayaan menjadi bagian
integral dari substansi debat Cagub-Cawagub Provinsi Jambi 2024-2029. Sekalipun
tertimbun oleh hiruk-pikuk informasi seputar Pilkada di Jambi, saya mengapresiasi pilihan gerakan
tersebut karena selama ini isu-isu kebudayaan selalu termarginalkan. Kalau pun
dipercakapkan, ia tak lebih sebagai peri-peri dari isu kepariwisataan. Bak
ketimun bungkuk, begitu bunyi dari penggalan lirik lagu Jambi yang amat familiar.
Saya teringat kata-kata John F. Kennedy (1961-1963), ”Ketika kekuasaan
mengantar manusia pada kesombongan, puisi mengingatkan akan keterbatasannya.
Ketika kekuasaan mempersempit area pemikiran manusia, puisi mengingatkannya
akan kekayaan dan keragaman eksistensi. Ketika kekuasaan itu korup, puisi
membersihkannya”.
Puisi merupakan salah satu di antara banyak karya seni-sastra yang
dihasilkan berkat keuletan penyair (sang kreator) menghayati kompleksitas permasalahan
di sebuah negeri, selain juga menggali saripati dari khasanah kebudayaan dimana
ia tumbuh dan berkembang. Pandangan filusuf Karlina Supelli perlu kita renungi bersama
berikut ini, “Di dalam sastra, orang-orang diajak bertemu dengan kisah tentang
manusia, penderitaannya, hidup dan mati, pilihan-pilihan yang tidak selalu
tegas. Sastra juga mengajarkan orang berbicara dengan fasih. Seni bicara dan seni bahasa akan menggerakkan seni pemikiran sehingga orang dapat mengungkapkan ide-idenya dengan tepat, santun dan betul”.
Kali lain dosen filsafat STF Driyarkara itu mengatakan bahwa karya fiksi
sangat penting karena ia membuka imajinasi, mengajak kita masuk ke dalam sebuah
dunia possible world yang tidak ada “di sini”, sehingga memantik
orang untuk berpikir mendalam sekaligus kompleks. Fiksi dan non-fiksi tidak
perlu dipertentangkan, karena keduanya sama-sama penting dan berguna.
Wacana seputar politik seperti Pemilu dan Pilkada tidak hanya dapat
dipahami melalui perspektif politik praktis sebagaimana ghalibnya diseriusi para
sarjana ilmu politik maupun politisi partai, tetapi juga dapat melalui kacamata
sastra dan budaya. Sastra, sebagai cermin masyarakat, acapkali menawarkan
refleksi mendalam terhadap dinamika politik, sosial, ekonomi, hukum dan budaya
yang berkembang di tengah masyarakat.
Dalam konteks politik Indonesia, karya-karya sastra tidak hanya menjadi
sarana ekspresi individual, tetapi juga menjadi medium kritik sosial yang
menyoroti ketidakadilan, korupsi, dan harapan akan perubahan. Tak syak, karya-karya
sastra acapkali mencerminkan situasi sosial dan politik terkini, memberikan
pandangan mendalam tentang permasalahan yang menggejala di tengah masyarakat.
Dengan kata lain, sastra tidak hanya menggambarkan realitas, tetapi juga
menyoroti ketidakadilan dan kesenjangan yang mungkin diabaikan oleh media mainstream
atau politisi itu sendiri. Untuk menyebut contoh, publik bisa membaca novel berjudul
korupsi karya Pramoedya Ananta Toer, Orang-Orang Proyek karya Ahmad Tohari, Potret
Pembangunan dalam Puisi karya WS. Rendra, 86 karya Okky Madasari dan Pulang
karya Leila S. Chudori. Demikian juga karya seni lainnya seperti tari, teater, lukis
dan masih banyak genre lainnya lagi, yang memiliki konvensi masing-masing, yang
juga menganggit jagad kebudayaan secara mendalam dan menarik sehingga dapat
dinikmati oleh masyarakat secara luas.
Kehadiran pelbagai festival sastra-budaya di Provinsi Jambi
sepanjang Oktober 2024 boleh dikata menjadi oase di tengah gersangnya lapangan
politik praktis yang disemaki wacana tentang jawaban. Jawaban yang didesakkan
laiknya dogma. Dunia politik menjelma menjadi dunia ribut kata dan kuasa, jauh
dari dunia berfikir dan kontemplasi. Yang tersisa hanya aktifisme. Bahkan, aktifisme
agenda seolah-olah jawaban sudah ada dan publik hafal dengan jawaban dan tidak
peduli lagi dengan pertanyaan.
Sejurus hal itu, pelbagai festival sastra-budaya tersebut pengejawantahan dari sebuah kesadaran untuk
senantiasa menumbuhkan dan mendewasakan kebudayaan, mempertinggi
khasanah dan pemaknaan dunia simbolik. Apa sebab? Di level itulah, negeri ini
(termasuk Provinsi Jambi) bisa berjaya, dihormati dunia, mempertahankan
integritasnya, dan melanjutkan tradisi kulturalnya yang tua.
*Kota Jambi, 27 Oktober 2024.
*Berikut tulisan-tulisan saya lainnya:
1) Darurat Demokrasi: Memaknai Persinggungan Cendekiawan dan Politik
2) Quo Vadis APBD Jambi 2019-2024?
3) Ketindihan Teknokratis: Problem Akut Perencanaan Pembangunan
4) Pilgub Jambi 2024 dan Peta Jalan Pemajuan Kebudayaan
5) Persoalan Fundamental di Ujung Kepemimpinan Al Haris-Sani
6) Potret Buram Daya Saing Daerah Jambi
7) Anomali Pembangunan Provinsi Jambi 2023
8) Beban Belanja Infrastruktur Jambi MANTAP 2024
9) Di Balik Gaduh Mendahului Perubahan APBD Jambi 2023
10) Medan Terjal Tahun Berjalan APBD Jambi 2023
11) Menyoal Proyeksi APBD Jambi 2024
12) Gonjang Ganjing Defisit APBD Jambi 2023
13) Dua Tahun Jambi Mantap Al Haris-Sani, Sebuah Timbangan
14) Setahun Jambi Mantap Al Haris-Sani: Sebuah Timbangan
15) Mengantar Al Haris-Sani Ke Gerbang Istana
16) Surat Terbuka untuk Wo Haris, Gubernur Terpilih Jambi
17) Surat Terbuka untuk Wakil Gubernur Jambi
18) Pandemi Covid-19 di Jambi, Surat Terbuka untuk Gubernur Jambi
19) Polemik Angkutan Batu Bara di Jambi dan Hal-hal Yang Tidak Selesai
20) Batu Bara Sebagai Persoalan Kebudayaan, Sebuah Otokritik
0 Komentar