Dilema Manusia Gawai

 

ilustrasi. foto: stinkstock

Oleh: Jumardi Putra*

Di eral digital, gawai (gadget) menemukan fungsinya yang begitu dominan. Sukar untuk membayangkan interaksi antar individu sekarang tanpa menggunakan gawai. Gawai adalah produk teknologi mutakhir, tak ubahnya budak yang bisa memudahkan, tapi kali lain menjelma bak majikan yang menakutkan.

Kehadiran pelbagai platform media sosial--dengan algoritmanya--menjadikannya meluas seraya menyesuaikan konten dengan preferensi dan perilaku pengguna. Tak pelak, di media sosial orang-orang memberi komentar atau pun menulis mulai dari perkara serius sampai hal remeh-temeh, entah itu ditulis panjang atau singkat, hadir bersamaan. Semua campur baur. Kuantitas menggantikan kualitas. Kemasan menjadi lebih penting ketimbang isi. Tak ada lagi kurasi laiknya di media cetak yang peran itu dikerjakan oleh editor atau redaktur. Batasan antara pengetahuan dan pendapat dengan gossip, gerundel, ngedumel, caci maki, menjadi sumir.

Bila masing-masing kita tidak memperisai diri dengan pandangan kritis maupun sikap yang tepat dalam memanfaatkan gawai di tengah tsunami informasi sekarang, maka beresiko terdampar di tengah kerumunan virtual antah berantah. Ke mana lagi tempat kita bertaut di saat internet telah membobol tapal batas administratif suatu wilayah (bahkan negara) sehingga menjadi nirbatas yang menghubungkan siapa saja dalam realitas global (dalam istilah Yasraf Amir Piliang disebut dunia yang dilipat) melalui gawai?

Internet digunakan secara meluas pada tahun 1990-an, meski telah ada beberapa sistem komunikasi yang berbasis digital, salah satunya adalah sistem telegraf yang sering kali dianggap sebagai pendahulu Internet. Pada tahun 1960, J. C. R. Licklider memperkenalkan istilah "Man-Computer Symbiosis" (Simbiosis Komputer-Manusia) dalam karya ilmiahnya. Istilah tersebut ia definisikan sebagai "jaringan komputer yang terkoneksi satu sama lain melalui pita komunikasi lebar yang berfungsi sebagai perpustakaan, dilengkapi dengan teknologi penyimpanan dan pencarian informasi.

Revolusi teknologi bidang komunikasi nyatanya membuat peradaan manusia bergerak cepat tak terbendung--suatu masa yang lain yang belum pernah ada sebelumnya--bersamaan dengan ekses yang ditimbulkannya. Ringkasnya, kita memasuki era internet, yang sangat memudahkan seorang untuk mengetahui segala sesuatu, hanya dengan melakukan beberapa klik dan terbukalah informasi yang diinginkannya.

Dahulu filusuf Aristoteles dan Boetius melabelkan manusia sebagai "animal rationale". Begitu juga Carolus Linneaus ahli botani dari Swedia menyebutnya dengan "homo sapiens". Namun, pencirian terhadap manusia itu kini telah bergeser, seperti dikatakan filsuf Jerman Rafael Capuro yang memperkenalkan label baru bagi manusia yaitu "homo digitalis".

Pelabelan "homo digitalis" bagi manusia sekarang sangat beralasan. Lihatlah keseharian penduduk dunia sekarang ini. Boleh dikata mulai dari bangun pagi hingga tidur kembali di malam hari selalu dekat dengan gawai. Ringkasnya, identifikasi eksistensi manusia digital dalam kehidupan saat ini terletak pada kedekatan mereka dengan gawai.

Kondisi demikian membawa manusia pada sebuah keadaan--meminjam prinsip pertama filsafat Rene Descartes yang dikenal melalui frasa "Cogito ergo sum" (Aku berpikir, maka aku ada)--mengawali masa rasionalisme di mana akal (reason) menjadi alat terpenting dalam memperoleh pengetahuan secara logis--, maka di era digital saat ini yang berlaku justru diktum "Premeo, ergo sum" (Aku mengklik, maka aku ada). Artinya, keberadaan manusia sekarang diidentikkan dengan "klik" (baca: menggunakan gawai atau alat digital), bukan pada kemampuan berpikir atau kesangsiannya.

Saya menyambut baik kehadiran buku karya Franky Budi Hardiman berjudul "Aku Klik, Maka Aku Ada: Manusia dalam Revolusi Digital" (2022). Dalam buku tersebut, ia menganggit modus kehidupan manusia digital dalam beberapa ciri utama yaitu antara lain: lebih menghidupi dunia layar daripada dunia yang sebenarnya, lebih membiasakan "browsing" daripada berpikir, lebih mengedepankan kebohongan daripada kebenaran, lebih menomorsatukan kepalsuan dibanding keaslian (autentisitas), lebih menanamkan sikap pengecut dengan berlindung di balik anonimitas (baca: akun palsu) daripada sikap pemberani, lebih memilih menjadi "genius malingnus" (setan yang cerdas) daripada menjadi malaikat berhati mulia dan murah hati, lebih condong cuci tangan dariada  mau bertanggung jawab.

Muncul pertanyaan mendasar, apa yang salah dalam menggunakan teknologi seperti gawai? Secara prinsip, alat teknologi apapun selalu bersifat netral pada dirinya seperti ditegaskan oleh filusuf Martin Heidegger. Yang perlu disadari oleh pengguna adalah tujuan pemanfaatan dan dampak kehadirannya. Dengan demikian, sikap gebyah ubyah menolak pemanfaatan teknologi juga tidaklah tepat, tetapi kita memanfaatkan keberadaan teknologi tanpa menjadi budaknya dan melihatnya sebagai manifestasi dari pemahaman tentang realitas yang terus bergerak.

Manfaat buku "Aku Klik, maka Aku Ada" karya guru besar filsafat itu sejatinya menyediakan ruang reflektif-kritis bagi manusia sekarang agar tidak menjadi budak digital, agar tidak kehilangan nilai diri sepenuhnya. Dengan kata lain, agar tidak terdampar di pulau antah barantah-beresiko terasing dari realitas dunia yang kompleks, maka pemanfaatan teknologi digital lebih-lebih gawai mensyaratkan kesadaran, kebajikan, tepatnya sikap kritis. Sikap demikian itu merupakan perisai bagi diri kita agar tidak sampai menjadi "genius malignus", setan cerdas dan cerdik bagi manusia.

 

*Tulisan ini terbit pertama kali pada tanggal 2 April 2025 di rubrik Oase-esai pada portal kajanglako.com

0 Komentar