Lebaran di Lumbung Pangan Belitang

Mancing bersama anak-anak di Sidogede

Oleh: Jumardi Putra*

Tahun ini kami sekeluarga mudik ke Desa Sidogede, kampung halaman istri saya, terletak di Kecamatan Belitang, Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur (OKUT), Provinsi Sumatera Selatan. Kecamatan Belitang berjarak sekitar 185 km dari ibu kota Provinsi, Kota Palembang. Lebih kurang 4 jam perjalanan darat menggunakan kendaraan roda empat dari kota Palembang ke Desa Sidogede melewati jalur lintas Timur mulai dari Indralaya, Kayu Agung, Tugu Mulyo sampai pusat ekonomi Pasar Gumawang setelah sebelumnya melewati Bendungan Komering (BK) enam belas (16) hingga BK sepuluh (10).

Meski masih ditemui jalan berlobang di beberapa titik, tetapi secara umum kondisi jalan aspal maupun beton mulai dari Palembang ke Belitang sekarang jauh lebih baik bila dibanding kondisi lima belas tahun lalu atau sejak pertama kali saya menginjakkan kaki di wilayah ini. Boleh dikata sejak Herman Deru terpilih sebagai Gubernur Provinsi Sumatera Selatan, jalan-jalan di daerah ini mulai mendapatkan perhatian serius.

Tidak ada keterangan resmi sejarah di balik penamaan Belitang, melainkan konon katanya pada masa lampau, daerah Belitang banyak pepohonan menjulang tinggi dengan akar berurat yang membelit-melintang. Dalam perjalanannya, kata ”belit-melintang” ini lambat laun yang dinamakan dengan daerah Belitang.

Kota Pangan Mandiri Belitang

Sebagian besar penduduknya merupakan masyarakat transmigran asal Jawa Tengah sejak kolonisasi di kawasan Belitang pada tahun 1936. Belitang sampai sekarang masyhur sebagai penghasil padi, ribuan hektar tanah ditanami padi. Barulah belasan tahun belakangan ini masyarakat mulai membuat kebun karet. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Sumatra Selatan (BPS Sumsel), luas lahan baku sawah di Kabupaten OKU Timur mencapai 59.522 hektare. Tak pelak, sejak era presiden Soeharto, Belitang menjadi lumbung pangan Provinsi Sumatera Selatan bahkan Nasional.

Mantan Presiden Indonesia seperti Soeharto, Megawati Soekarno Putri, dan Susilo Bambang Yudhoyono telah melakukan panen raya di wilayah Belitang (sebelum terjadi pemekaran). Hal utama yang mendukung pertanian di Belitang adanya aliran irigasi yang sudah ada pada zaman kolonial Belanda. Sepanjang persawahan yang saya jumpai tampak saluran irigasi yang berasal dari Sungai Komering, salah satu sungai di wilayah provinsi Sumatera Selatan yang bermuara di Sungai Musi.

Mudik ke Belitang galibnya kami lakukan dua tahun sekali, lantaran bergantian mudik ke kampung halaman orang tua saya di Desa Empelu, Kecamatan Tanah Sepenggal, Kabupaten Bungo atau berjarak sekitar 281,4 kilometer dari Kota Jambi, tempat kami kini bermastautin dan bekerja sejak tahun 2011 sampai sekarang. Jika menggunakan kendaraan rodat empat dibutuhkan waktu perjalanan sekira 6 sampai 7 jam dari Kota Jambi sampai ke pusat kota Bungo. 

Kami sekeluarga bersama Mbah Uti/Mbah Kakung

Mudik sebagai fenomena sosio-kultural atau yang kerap masyarakat Indonesia lakukan dengan perjalanan pulang ke kampung halaman jelas bertujuan untuk berkumpul dengan sanak keluarga. Tak syak, usai melaksanakan shalat Idul Ftiri di lapangan Sekolah Dasar (SD) Sidogede, rumah mertua saya terus didatangi keluarga yang datang dari berbagai daerah hingga lebaran hari keempat ini. Hari ke hari, mulai dari sanak-saudara, handai taulan, tetangga serta kawan lintas profesi datang silih berganti, lebih dari sekadar mengucapkan selamat merayakan hari raya Idul Fitri.

Mudik, dalam sejarah panjang di negeri ini, memiliki konsekuensi sosial, budaya, dan psikologis yang signifikan selain perjalanan fisik dari tempat asal ke daerah tujuan. Pengalaman mudik, dengan semua perasaan nostalgia, harapan, dan interaksi sosial yang melekat padanya, dapat berdampak besar pada kesehatan mental, terutama untuk merekatkan kohesi sosial.

Dua anak lelaki saya, si sulung Kaindra dan Rendra si bungsu, selain bertemu dengan Mbah Puteri (Uti)/Mbah Kakung dan keluarga besar mulai dari generasi di atas usia kemerdekaan RI hingga anak-anak yang belum lama ini lahiran, mereka mengisi waktu sore hari dengan memancing di kolam ikan milik kakek-neneknya dan juga memberi makan sapi. Sawah di Sidogede tampak sudah dipanen sebelum Ramadan berakhir sehingga pemandangan padi menguning tak terlihat lagi. Sesekali kami jalan-jalan sore di kawasan pasar Gumawang, pasar yang tumbuh pesat sekaligus berdiri beberapa lembaga pendidikan mulai dari SD, SLTP, SMA/SMK dan perguruan tinggi serta perbankan. 

Selanjutnya, anak-anak juga bersua kembali dengan teman-teman sebayanya. Malam hari jelang Idul Ftiri kami menyaksikan arak-arakan takbir pemuda dan putera-puteri Desa. Sebuah momen gigantik bagi mereka guna merajut ingatan tentang kampung halaman, yang juga tanah kelahiran mereka. Semua berlangsung natural, hidup, tanpa balutan iklan dan pardah. Tidak jauh dari rumah mertua, berdiri sebuah pesantren modern Nurussalam Sidogede dengan ribuah santri yang datang dari pelbagai daerah di tanah air.

Keluarga kecil kami

Selain menerima tamu di rumah, sebagaimana galibnya, empat hari belakangan ini kami juga mengunjungi keluarga Mbah Uti/Mbah Kakung baik di Margacinta maupun Desa Sidomakmur hingga Nusaraya. Bahkan, tidak jauh dari Nusaraya terdapat kampung orang-orang Bali, namanya desa Nusabali. Sama halnya suasana di Desa Karang Menjangan yang kami lalui dari arah Palembang ke Gumawang.

Dengan pemaknaan semacam ini, cerita tentang mudik bukan sekedar cerita tentang perjalanan pulang kampung untuk bertemu keluarga semata, melainkan tentang cerita kembali ke asal, kembali ke fitri seperti makna Idul Fitri yang tidak sebatas sebagai peristiwa seremonial atas kemenangan menahan rasa lapar dan dahaga saat menunaikan ibadah puasa selama sebulan penuh di bulan Ramadan. Hal itu sejalan dengan substansi khotbah shalat Idul Fitri yang disampaikan oleh Mas Eko Cahyono, yang berhasil menautkan makna sekaligus spirit di balik perintah puasa sebulan penuh seraya kewajiban berzakat serta kaitannya dengan puncak ketaqwaan sosial, melampaui kadar keimanan formalistik-individual.

Dengan demikian, "Mudik" yang berakar dari kata "udik" bermakna "kampung pedalaman" terdalam selalu memiliki pesan multisisi baik sebagai ekspresi keagamaan maupun pengejawantahan makna sosial untuk mewujudkan kebahagiaan bersama dalam satu momen besar yaitu Idul Fitri 1 Syawal 1446 Hijriah/31 April 2025. Pemaknaan itu meniscayakan “udik” mengandung arti space (ruang) ketimbang place (tempat) dalam ruas kesadaran ruang-waktu bagi seseorang baik sebagai muslim maupun sebagai warga negara Republik Indonesia dan bahkan bagian integral dari penduduk kampung global (global village).

 

*Belitang, 4 April 2025.

0 Komentar